Wedding Vow

Mr to Mrs :

I offer you myself in marriage in accordance with the commands of the Holy Qur’an and the Holy Prophet, peace and blessing be upon Him.

You are the most beautiful, bold, fierce, smart, and generous lady I have ever known, and I give you my word to affirm my love to you, as I invite you to share my existence. I will shoo the caterpillars you dread of. I will endeavor my hardest not to get annoyed when you whisper question, comments or act knowledgeably during movies. I will allow you triumph at wrestling.  Sometimes. Other times I will not. I promise to treat you as good as my mountaineering equipage, ride you as much as Harley (if I might have one), love you more than I love Nutella, revere you, but not obey, because that’s slightly creepy. I solemnly vow to constantly be rebel, sexy and shrewd further than Johnny Depp is.

Mrs to Mr :

By the power that God brought from heaven, mayst thou love me.

As the sun follows its course, mayst thou follow me.

As light to the eye, as bread to the hungry, as joy to the heart,

May thy presence be with me,

Oh one that I love, ’til death comes to part us asunder.

surat keempatbelas

Halo, sayang?

Kemarin aku flu dan pusing berat jadi tidak sempat menulis, im sorry ☹️

Tapi telat sehari, gapapa kan ya? hehe Sebenarnya ini draft dari Desember 2018 yg rencana aku publish saat setahun usia pernikahan kita. Tapi yaaa taulah aku lupa 😂. So, here we go aku sedikit edit sana sini

Menikah.

Awalnya aku hanya berfikir ini semua bercanda. Atau hanya menggelar acara dimana akulah yang menjadi primadona. Semua hanyalah senang-senang, para teman memberiku ucapan selamat, aku bahagia melihat mereka semua berkumpul. Lalu, aku baru tersadar ketika pagi datang. Melihat dia di sampingku. Oh ya, aku memang sering camping bersama dia. Aku sudah sering melihat matahari terbit bersamanya di puncak-puncak gunung yang kami daki berdua.

Tapi pagi ini semua berbeda.

Semua menjadi aneh ketika dia berseliweran di rumahku. Atau dia diizinkan tidur bersamaku semalam-malaman. Dan setiap paginya aku melihat mukanya terbangun di sampingku, lagi.

Aku suka melihat wajahnya setiap pagi, yang sedang tertidur lelap, aku suka berlama-lama melihat wajahnya dan mengatakan padai diriku sendiri, “Hey kamu sudah menikah dan inilah wajah suamimu setiap pagi” atau ketika sudah malam dia tidak pulang dari rumahku. Sebentar, aku butuh waktu untuk mencernanya.

Tapi, kita menikah. Kita akan menghabiskan seluruh waktu dan pikiran untuk satu sama lain, membangun dan menghadapi dunia dimana kitalah yang akan mengaturnya. Aku, kamu, dan anak-anak kita, nantinya.

Selamat dua tahun pernikahan, untukmu, yang memilihku dan memutuskan untuk menghabiskan seluruh hidupmu bersenang-senang bersama denganku. I Love You.

surat ketiga belas

Hari ini kamu pulang, sayang. Entahlah, tidak ada rasa sedih yang menjalari hatiku seperti setiap kita berpisah, hanya sebuah cubitan kecil dan pertanyaan “oh, begini doang?”

Rasanya aku memang brengsek dan sebangsat-bangsatnya sebagai wanita. Aku memang egois. Apa aku kurang bersyukur mempunyai suami baik hati dan selalu menjadi figur penyabar? Sepertinya aku harus ditampar keras-keras sampai kepalaku putus dari leher karena apasih yang kurang dari hidupku?

Aku lelah menjembatani besarnya jurang perbedaan antara kita (nah, mulai klise). Dan aku tidak bisa menjadi pembaca pikiranmu setiap kalo kita berdebat. Seharusnya kamu lihat, siapa, selama ini yang timpang?

Sudahlah, besok juga aku lupa.

Hello, mini Ahmad

Aku masih ingat waktu itu malam sebelum aku mudik 2018. Aku masih di kantor. Setelah sebelumnya mengeluhkan pusing hebat dan rasa ingin muntah-muntah, akhirnya aku memutuskan pulang saat sore menjelang. Setelah cukup istirahat di mess, akhirnya aku kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda hari itu.

Mungkin ini yang dinamakan naluri seorang ibu, ketika jam menunjukkan pukul tujuh malam, setelah setelah-setelahnya aku setengah berharap dan merengek kepada Mas Ahmad bahwa aku hamil (ya! aku berulang kali bilang “Beybi kayaknya aku hamil deh. Aku ngerasa hamil tapi aku gamau test pack pokoknya. Tapi aku tau aku hamil!” Dan aku sudah stop mengkonsumsi obat-obatan apapun semenjak itu) tiba-tiba saja aku memutuskan untuk membeli test pack. Sendirian.

Ada perasaan takut-takut ketika sudah mengantri di kasir. Sepanjang perjalanan kembali ke kantor banyak pikiran yang berseliweran di benakku. Bagaimana jika aku tidak hamil? mas Ahmad pasti kecewa. Atau bagaimana jika aku sungguh-sungguh hamil? Apakah aku bisa jadi ibu?. Suasana kantor saat itu sepi. Hanya ada aku. Dan astaga,

AKU HAMIL.

Pikiranku kacau balau. Lalu aku menangis. Entah apa yang ku tangisi. Segala perasaan bercampur aduk dalam benakku. Lalu setelah bisa menguasai emosi yang aneh, aku coba menelfon Mas Ahmad. Aku katakan padanya langsung “Bey aku hamil.”

. . .

. . .

. . .

Jeda agak panjang.

“Hah? Iya ta? Yee (dengan nada meleter). Alhamdulillah (akhirnya mengucap syukur)”

Aku hanya terdiam.

Tidak ada perubahan signifikan pada bulan-bulan berikutnya. Aku tidak mengalami hal yang dialami oleh wanita hamil pada umumnya. Aku tidak mual, muntah, pusing, lemas, atau alergi pada bau-bauan tertentu. Pekerjaanku tetap banyak dan aku masih mengikuti kelas zumba hingga menginjak bulan kedelapan. pun perubahan badanku tidak signifikan, perutku mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan saat awal bulan ketujuh.

Yang sangat-sangat mengganggu pada saat awal kehamilan adalah secara mental. Aku berubah menjadi pribadi yang melankolis, gampang menangis dan sering kangen dengan Mas Ahmad (yah, katanya bawaan bayi). Aku sering gelisah jika dia sibuk atau lama membalas pesanku, aku pasti langsung ingin menangis. Atau ketika dia cuek (yang memang sebenarnya aku sudah tau dia cuek semenjak dulu), aku pasti langsung sedih dan merasa telah melakukan kesalahan. Aku sering sekali merengek minta di telfon, padahal tidak ada yang di omongkan.

Hari ini kamu terlahir, Kak. Kami memberimu nama yang sangat kami idamkan semenjak dulu. Selamat datang,

Mahadante Dipati Ahmad.

I’m counting on the drops of rain

The tiny transparent thing of blue sky

But not so grace anymore

Not so loved anymore

No less, it’s what I have longed for a time

I’m counting on you to come back in time. From the path that we used to play and run. But there’s no rain anymore. There’s no tear anymore. No doubt, the path is empty without us

Where were you?

Where are you?

Don’t you see the rainbow after the rain?

I promise you in the tip of rainbow there’s me, and us And our story wrapped by hands of God

― Sunjaya, 2018

down in the dumps

I left the library. Crossing the street, I was hit head-on by a brutal loneliness. I felt dark and hollow. Abandoned, unnoticed, forgotten, I stood on the sidewalk, a nothing, a gatherer of dust. People hurried past me. and everyone who walked by was happier than I. I felt the old envy. I would have given anything to be one of them.

“I could feel my insides sink. My knees too. So I sat on the ground, against the wall, letting it support me. I thought I knew what heartbreak felt like. I thought heartbreak was me, standing alone at the prom. That was nothing. This, this was heartbreak. The pain in your chest, the ache behind your eyes. The knowing that things will never be the same again. It’s all relative, I suppose. You think you know love, you think you know real pain, but you don’t. You don’t know anything.”

― Jenny Han, It’s Not Summer Without You

tulisan bahagia

Semua orang berhak untuk bahagia, dengan caranya masing-masing.

Akhir-akhir ini aku jadi sering agak sinis dan jengah menyikapi beberapa temanku yang sekarang sangat aktif pamer di media sosial. Semenjak adanya something story itu mereka jadi berlomba-lomba menunjukkan ke khalayak tentang pencapaian hidupnya (mostly something about money, money and money). Dan karena akhir-akhir ini kepamerannya menjadi semakin parah, oke, akhirnya aku memutuskan untuk membaca beberapa artikel dan bertanya kepada beberapa teman psikologi tentang perubahan tabiat pamer ini. Dari banyak artikel yang sudah aku baca, inilah teori yang paling masuk akal tentang tabiat pamer

  1. Berdasarkan penelitian tahun 2012 yang dipublikasi di Journal of Personality and Social Psychology, generasi milenial memang lebih mengutamakan penampilan dan ketenaran dibandingkan hal-hal lain di kehidupannya.
  2. Abraham Maslow membagi kebutuhan manusia menjadi piramida yang terdiri dari lima tingkat. Kebutuhan diawali dari piramida strata paling dasar yaitu kebutuhan fisiologis, lalu berlanjut ke kebutuhan keamanan, kebutuhan cinta, sayang dan kepemilikan, kebutuhan penghargaan dan paling atas, kebutuhan aktualisasi diri.
  3. “Memakai jins atau barang-barang dari desainer terkenal bisa membuat orang yang tidak dianggap merasa ’aku keren, kalau tidak percaya, lihat nih mereknya!‘” —Psikolog Chaytor D. Mason.

Dari semua pembahasan yang aku dapat, kesimpulanku hanya 1. Karena pamer merupakan bentuk apresiasi diri mereka. Jika dengan pamer, mereka bisa bahagia, why not?

Banyak cara yang dilakukan untuk membuat bahagia. Ada yang berkumpul bersama teman, ada yang membaca buku, ada yang bahagia ketika menerima uang, ada yang bahagia dengan mendaki gunung. Dan semua itu sama sekali tidak ada salahnya.

Beberapa orang bahagia dengan menunjukkan bahwa mereka sudah berada di strata kehidupan yang lebih baik dari yang sebelumnya. Dia menemukan bahwa dengan menjadi superior di sekitar lingkungannya, artinya dia menemukan kepuasan diri.

Lalu approval bagi mereka adalah dengan membagikan superioritasnya kepada khalayak. Apakah dia salah? Menurutku tidak. Karena kembali lagi, dia bahagia dengan pamernya. Pencapaian tertingginya adalah kebutuhan penghargaan dari ajang pamer tersebut. Justru kita sebagai warganet bebas mempunyai pilihan menyikapinya, apakah termotivasi? Biasa saja? Iri? atau frustasi? Its your choice. Let them happy. Choose your own happiness, dear 🙂

Ada juga yang berpendapat kalau orang yang suka pamer adalah orang kurang bahagia dibanding yang jarang pamer. menurut saya itu subyektif, ada beberapa yang memang bahagia dengan pamer, ada yang bahagia dengan menikmatinya sendiri. Saya juga suka pamer. Seringnya tentang kehidupan pertemanan saya. Apakah saya salah jika saya membaginya dengan khalayak luas?  Kalian berhak menyikapi kepameran saya :). Semua orang berhak untuk bahagia, dengan caranya masing-masing.

 

ps: agak gak sistematis ya, maklum sudah lama saya tidak menulis 🙂 xoxo

Anyer Jakarta

“Kita bercinta di antara pagi dan dingin. Laut menjadi saksi, langit menjadi bisu.

Sedang pasir-pasir basah jadi alas kaki kau mendaki, aku memaki.

Langit jadi hujan, membuat laut pasang.

Dan kita lindu yang mengawini badai.”

Untuk kamu yang lebih dekat daripada Anyer, untuk kenangan yang tidak pernah berhenti.

Antara Anyer dan Jakarta, 29 Maret 2016