Aku masih ingat waktu itu malam sebelum aku mudik 2018. Aku masih di kantor. Setelah sebelumnya mengeluhkan pusing hebat dan rasa ingin muntah-muntah, akhirnya aku memutuskan pulang saat sore menjelang. Setelah cukup istirahat di mess, akhirnya aku kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda hari itu.
Mungkin ini yang dinamakan naluri seorang ibu, ketika jam menunjukkan pukul tujuh malam, setelah setelah-setelahnya aku setengah berharap dan merengek kepada Mas Ahmad bahwa aku hamil (ya! aku berulang kali bilang “Beybi kayaknya aku hamil deh. Aku ngerasa hamil tapi aku gamau test pack pokoknya. Tapi aku tau aku hamil!” Dan aku sudah stop mengkonsumsi obat-obatan apapun semenjak itu) tiba-tiba saja aku memutuskan untuk membeli test pack. Sendirian.
Ada perasaan takut-takut ketika sudah mengantri di kasir. Sepanjang perjalanan kembali ke kantor banyak pikiran yang berseliweran di benakku. Bagaimana jika aku tidak hamil? mas Ahmad pasti kecewa. Atau bagaimana jika aku sungguh-sungguh hamil? Apakah aku bisa jadi ibu?. Suasana kantor saat itu sepi. Hanya ada aku. Dan astaga,
AKU HAMIL.
Pikiranku kacau balau. Lalu aku menangis. Entah apa yang ku tangisi. Segala perasaan bercampur aduk dalam benakku. Lalu setelah bisa menguasai emosi yang aneh, aku coba menelfon Mas Ahmad. Aku katakan padanya langsung “Bey aku hamil.”
. . .
. . .
. . .
Jeda agak panjang.
“Hah? Iya ta? Yee (dengan nada meleter). Alhamdulillah (akhirnya mengucap syukur)”
Aku hanya terdiam.
Tidak ada perubahan signifikan pada bulan-bulan berikutnya. Aku tidak mengalami hal yang dialami oleh wanita hamil pada umumnya. Aku tidak mual, muntah, pusing, lemas, atau alergi pada bau-bauan tertentu. Pekerjaanku tetap banyak dan aku masih mengikuti kelas zumba hingga menginjak bulan kedelapan. pun perubahan badanku tidak signifikan, perutku mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan saat awal bulan ketujuh.
Yang sangat-sangat mengganggu pada saat awal kehamilan adalah secara mental. Aku berubah menjadi pribadi yang melankolis, gampang menangis dan sering kangen dengan Mas Ahmad (yah, katanya bawaan bayi). Aku sering gelisah jika dia sibuk atau lama membalas pesanku, aku pasti langsung ingin menangis. Atau ketika dia cuek (yang memang sebenarnya aku sudah tau dia cuek semenjak dulu), aku pasti langsung sedih dan merasa telah melakukan kesalahan. Aku sering sekali merengek minta di telfon, padahal tidak ada yang di omongkan.
Hari ini kamu terlahir, Kak. Kami memberimu nama yang sangat kami idamkan semenjak dulu. Selamat datang,
Mahadante Dipati Ahmad.